Home Default Blog

ARTIKEL

MEMETAKAN DINAMIKA GENDER DALAM KEBUDAYAAN INDONESIA MELALUI BISIK (BINCANG RAMPES ASIK)

Bandung, 19 April 2024. RAMPES (Rawayan Mahasiswa Program Etnostudi) menggelar acara BISISK Vol.V (Bincang Rampes Asik) dengan tajuk “Dinamika Gender dalam Kebudayaan Indonesia (Memperluas Wawasan dan Mendorong Kesetaraan Gender)” yang bertempat di G.O.S Patanjala ISBI Bandung.

BISIK Vol.V ini diisi oleh Neneng Yanti Khozanatu L. ,M.Hum, Ph.D., Ali Sophian, serta Nissa Vidyanita sebagai pembicara. BISIK Vol.V juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Nazmi, monolog oleh Liska Rahmawati, dan permainan kendang oleh Chyntia. Selain itu di dalam kegiatan BISIK Vol. V ini juga menghadirkan performance srt dari HIMAKA dan juga mini pameran oleh GAMASENI.

Sesi pertama diskusi BISIK Vol.V oleh Neneng Yanti, G.O.S Patanjala ISBI Bandung, 19 April 2024 (foto: Dokumentasi Rampes, Aris Junaedi/LPM Daunjati)

Neneng Yanti Khozanatu salah satu pembicara memaparkan materi tentang gagasan kesetaraan berbasis budaya lokal perempuan dan budaya Sunda. Beliau menjelaskan bahwa gagasan terhadap kesetaran gender di Indonesia khususnya di tanah Sunda sudah ada, bahkan sebelum negara-negara barat menggaungkan kesetaran gender.

“Kalau selama ini kita beranggapan ide-ide kesetaraan, feminisme dan sebagainya itu adalah gerakan yang diadopsi dari barat kemudian mencoba disebarluaskan atau dipelajari dan lainnya di Indonesia. Tetapi, sebenarnya kalau kita melihat dari cerita-cerita sejarah naskah-naskah yang bisa kita baca dengan peradaban-peradaban kuno bangsa Indonesia, Indonesia itu pada dasarnya adalah negara yang setara… Misalnya, dalam kebudayaan sunda ada Sunan Ambu, siapa yang tidak kenal Sunan Ambu? itu diabadikan menjadi gedung bergengsi di ISBI namanya Gedung Sunan Ambu. Kenapa Sunan Ambu? karena Sunan Ambu itu adalah simbol spiritual tertinggi pada budaya sunda, perempuan,” tutur Neneng.

Pembacaan puisi oleh Nazmi di BISIK Vol.V, G.O.S Patanjala ISBI Bandung, 19 April 2024 (foto: Dokumentasi Rampes, Aris Junaedi/LPM Daunjati)

Agus Mulia selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa tujuan dari pemilihan tema “Dinamika Gender dalam Kebudayaan Indonesia” ini agar mahasiswa lebih tau dan paham perihal gender.

“Mengapa membawa isu gender sebagai bahasan di Bincang Asik Rampes ini? Ingin tujuannya di awal kita tuh ingin ngasih suatu wawasan dan pengetahuan bagi teman-teman mahasiswa mengenai gender,” ujar Agus.

Berbeda dengan BISIK edisi-edisi sebelumnya, BISIK Vol.V kali ini tidak hanya menargetkan audiens dari kalangan mahasiswa saja, melainkan menargetkan audiens dari kalangan siswa sekolah mengengah atas. Hal tersebut diharapkan dapat menambah kesadaran siswa-siswa SMA terkait gender.

“…Selain kita ke mahasiswa, kita juga menargetkan audiens dari siswa-siswa SMA. Nantinya agar isu seperti ini para siswa SMA Mulai peka lah,” lengkap Agus.

Sesi kedua diskusi BISIK Vol.V oleh Ali Sophian, serta Nissa Vidyanita, G.O.S Patanjala ISBI Bandung, 19 April 2024 (foto: Dokumentasi Rampes, Aris Junaedi/LPM Daunjati)

Salah satu siswa SMA yang hadir, Gitsa dari SMAN 1 Cicalengka mengungkapkan bahwa materi yang ia dapat selama diskusi memberikan wawasan baru akan pentingnya kesetaraan gender dan peran penting perempuan didunia.

“Sangat penting soalnya berada di lingkungan yang berbeda beda, supaya kita ngerti sebagai perempuan bagaimana harus bersikap dan punya kesadaran terhadap gender…. Jadi, semakin mengerti peran perempuan di dunia sangat penting dan sangat berharga. Dalam agama juga penting, kalau di sunda juga tadi kan sangat diutamakan, jadi perempuan harus punya harga diri, jangan mencoreng harga diri sendiri, intinya perempuan itu sangat berharga,” ujar Gitsa.

Menurut Muhammad Rai Ibrahim selaku ketua HUMAN Unpad, acara BISIK Vol.V ini memberikan wawasan tentang pentingnya pengetahuan dan kesadaran terhadap gender.

“Saya cukup kagum ya dan mendapat insight banyak juga bahwa kesetaraan gender itu nggak bisa hanya dilihat dari satu sisi aspek aja gitu. Kita juga harus tahu bahwa pengetahuan dan awareness tentang gender itu bisa dilihat dari berbagai sisi dari berbagai bidang disiplin ilmu. Terlepas itu juga, gender itu ya memang ditingkatkan kesadaran tentang hal itu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti ketimpangan maupun ketidakadilan,” jelas Raihan.

Selanjutnya, Rai menjelaskan bahwa pemahaman masyarakat tentang pentingnya pengetahuan dan kesadaran terhadap gender perlu lebih ditingkatkan lagi karena pengetahuan gender sangat penting dan vital.

“Menurut aku penting banget ya karena kita sudah hidup di zaman di mana hampir semua kita melihat banyak kasus ketidaksetaraan gender yang terjadi di masyarakat, di lingkungan sekitar kita. Dan itu menurut aku, pengetahuan gender itu amat sangat penting dan vital rupanya karena jika kita tidak mengetahui hal tersebut, kita akan cenderung apatis dan membiarkan ketidakadilan terjadi sekitar kita,” lengkap Raihan.

 

Penulis : Meylfin Ridona, Ossa Fauzan
Dokumentasi : Ariz Junaedi
Penyunting : Acep Muhammad