Home Default Blog

ARTIKEL

MERAYAKAN HARI BUMI DENGAN PENAMAAN POHON DAN DISKUSI LINGKUNGAN

Bandung, 24 April 2024. Dalam rangka merespons Hari Bumi Sedunia yang jatuh setiap tanggal 22 April, mahasiswa pencinta alam (Mapala) Arga Wilis menggelar kegiatan penamaan pohon dan diskusi lingkungan yang bertempat di Teater Kotak, belakang gedung Sunan Ambu ISBI Bandung. Acara ini tidak hanya sekadar penamaan, tetapi juga sebagai langkah awal dalam program pendataan terhadap pohon-pohon di sekitar kampus ISBI Bandung.

Aids selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa penamaan pohon yang telah dilakukan baru terhadap pohon-pohon besar dengan rencana akan melibatkan pohon-pohon sedang dan kecil. Menariknya, pohon-pohon ini tidak hanya diberi nama Latin, Indonesia, dan Sunda, tetapi juga akan diberi nama dari tokoh-tokoh berpengaruh di Jawa Barat, seperti Prabu Siliwangi atau Manik Maya.

“Penamaan pohon yang sudah dilakukan sejauh ini baru dilakukan terhadap pohon-pohon yang besar, baru nanti dilakukan terhadap pohon-pohon yang sedang dan kecil yang ada di sekitaran ISBI Bandung… Untuk kedepannya, pohon-pohon ini akan diberi nama-nama dari orang-orang yang berpengaruh di Jawa Barat, seperti contohnya mungkin Prabu Siliwangi atau mungkin Manik Maya,” ujar Aids.

Selain penamaan pohon, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi perihal menjaga lingkungan di sekitar kampus. Diskusi ini juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi, penampilan tarawangsa, dan karinding Sora Jagat.

Pada sesi diskusi, Pepep Didin Wahyudin yang akrab dipanggil Mang Pepep memberikan materi tentang hubungan mitos dan mitologi dengan lingkungan kampus. Mang Pepep menyoroti pentingnya pohon dalam konteks kebudayaan Sunda dengan contoh pohon beringin yang menjadi simbol kesakralan dan juga penahan air, memainkan peran vital dalam ekosistem.

“Dicontohkan caringin atau beringin atau dalam bahasa Latin Picus, dalam konteks kebudayaan Sunda kan deket pisan. Beringin itu deketnya itu khususnya dalam konteks air karena di masyarakat Sunda ada salah satu metode namanya patanjala ya yang dijadikan nama gedung ya. Bagaimana memelihara air dan salah satu ikatan yang mengikat air itu adalah pohon beringin. Karena itu, pohon beringin disakralkan. Disakralkannya itu bisa dalam bentuk ritus. Kalau ritus-ritus ngarekes biasanya itu di bawah pohon caringin, kalau di Bali mah jelas setiap pohon beringin pasti diikat dengan kain putih menandakan kesakralan. Karena itu, berlaku untuk pohon beringin khususnya yang sudah besar-besar di mata air biasanya dipamalikeun, dilarang untuk ditebang, tidak boleh ditebang dan tidak ada ceritanya pohon beringin mati dengan sendirinya,” ujar Mang Pepep.

Resa, seorang mahasiswa seni, turut meramaikan acara dengan pembacaan puisi berjudul “Lumbung Hijau” yang menggambarkan pesimisme atas aktivitas manusia di bumi dan pentingnya kesadaran akan perlindungan lingkungan.

“Jadi, puisi aku menceritakan soal aktivitas manusia di bumi. Dari aktivitas tersebut, aku berpegang pada hal-hal yang pesimis, pesimis bagaimana aktivitas dan praktek-praktek manusia di bumi itu begitu menyebalkan. Dan lalu, muncullah slogan bahwa bumi tidak butuh manusia, tapi manusia yang butuh bumi dan bumi akan mati dan manusialah pembunuhnya,” ungkap Resa.

Taufik Septian, salah satu audiens, menekankan urgensi pemahaman akan pentingnya pohon dalam lingkungan kampus. Taufik mengajukan pertanyaan tentang alternatif untuk pembangunan tanpa merusak lingkungan serta mengingatkan akan pentingnya riset untuk memahami dampak dari penebangan pohon terhadap aktivitas mahasiswa.

“Bagus untuk sedikit refleksi terhadap kampus hari ini lagi seperti apa dalam sisi ekologis nya gitu. Kan tadi banyak ngobrolin mengenai pohon, nah apakah urgensi pembangunan kayak ‘Apakah pembangunan itu harus ada penebangan atau seperti apa atau ada alternatif lain untuk yang lainnya,’” ungkap Taufik.

Penamaan pohon dan diskusi lingkungan yang digelar oleh Mapala Arga Wilis tidak hanya menjadi momen simbolis, tetapi juga dapat menjadi refleksi kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga bagi seluruh warga kampus ISBI Bandung.

 

Penulis : Meylfin Ridona, Ossa Fauzan
Dokumentasi : Ossa Fauzan
Penyunting : Acep Muhamad Sirojudin