Home Default Blog

ARTIKEL

FRAGMEN DALAM SMILJAN SPACE BERSAMA SEKOLAH SENI TUBABA

Tangerang Selatan, 11 Mei 2024 – Pameran seni rupa yang bertajuk “ANASIR” telah resmi dibuka di Smiljan Space, Tangerang Selatan, pada tanggal 11 Mei 2024. Acara yang akan berlangsung hingga 31 Mei 2024 ini menampilkan karya-karya seni dari Sekolah Seni Tubaba.

Simbolis peresmian pembukaan pameran ANASIR dengan penandatanganan pengantar karya , Smiljan Space, Tanggerang, Sabtu, 11 Mei 2024 (Foto: Meylfin Ridona/LPM Daunjati)

Pada sambutan pembukaan pameran, Semi Ikra Anggara salah seorang pendiri Sekolah Seni Tubaba (SST), mengajak pengunjung kembali pada saat Tubaba baru didirikan. Dimana Tubaba hanya sebuah kota kecil yang didalamnya memiliki fasilitas yang sangat minim dan dengan kualitas SDM yang perlu di kembangkan. SST menjadikan seni sebagai empowerment, gagasan, dan spirit yang dapat memperbaiki kualitas manusia, hingga kini 8 tahun kemudian Tubaba sudah menjadi ruang hidup yang lebih baik.

“Tubaba kondisinya sangat berbeda, dengan kualitas SDM juga dia posisinya terpencil di provinsi lampung, belum ada jalan tol kita butuh waktu 4 jam dari bandara … yang paling mungkin dilakukan adalah memperbaiki kualitas sumber daya manusia tapi saya bilang saya ngga bisa apa-apa, saya cuma tau sedikit kesenian bisa memperbaiki kualitas manusia, dan akhirnya kita mulailah kelas kelas kesenian, seperti kelas teater, musik juga seni rupa ya“ ujar Semi

“Kita bertahan ya sampai 8 tahun berjalan dan sekarang sebagian orang tau Tubaba menjadi kota yang berbeda,” tambah Semi

 

Kembali Ke Masa Depan

Sekolah Seni Tubaba yang memiliki cita-cita dimana para siswa kelak akan kembali atau pulang ke masa depan, yang mana masa depan disini merupakan tujuan mereka kelak setelah dewasa.

“Kita punya moto pulang ke masa depan, kita mengambil satu mitos yang namanya Uluan Nughik. Jadi Uluan Nughik adalah peradaban lamanya Tulang Bawang Barat atau Lampung, dimana di peradaban ini orang-orang memiliki nilai-nilai kesetaraan, mencintai lingkungan serta kesetaraan terhadap perempuan. Itulah yang kita ambil spirit tersebut yang kita simbolkan pulang kemasa depan,” lengkap Semi

 

Karya lukis pada pameran ANASIR, Smiljan Space, Tanggerang, Sabtu, 11 Mei 2024 (Foto: Meylfin Ridona/LPM Daunjati)

Tubaba sebuah kota yang kelak dikemudian hari nanti akan menjadi masa depan dari Indonesia. Tubaba bukan hanya menjadi sebuah tempat, tetapi menjadi sebuah gagasan, harapan dimana disanalah penciptaan identitas baru dan ruang hidup yang lebih baik.

Melalui gagasan, harapan, serta spirit yang sama dengan Sekolah Seni Tubaba, Rahmat Indrani dengan ruang alternatif yang ia bangun di kota Tangerang Selatan yakni Smiljan Space, berkomitmen untuk memberikan ruang kreativitas dan ruang literasi baru kepada masyarakat.

 

ANASIR: Fragmen, Bagian, Patahan

Selama satu setengah tahun Smiljan Space berdiri, Smiljan Space telah menjadi tempat pameran sebanyak sebelas kali. Dan pada bulan Mei ini Smiljan Space bersama Sekolah Seni Tubaba mengadakan pameran seni rupa sekolah seni tubaba dengan tajuk “ANASIR”.

Suvi Wahyudianto yang merupakan salah satu fasilitator kelas seni rupa SST, membersamai para kawan perupa menemukan fragmen yang akan ditumpahkan melalui lukisan-lukisan mereka.

Menggabungkan beragam fragmen kehidupan, pengalaman, dan harapan melalui medium seni rupa. Konsep dasar “ANASIR” menjadi perekat yang menghubungkan semua karya yang dipamerkan dan menciptakan lanskap berpikir bagi pengunjung.

Sketsa-sketsa oleh para siswa SST pada pameran ANASIR, Smiljan Space, Tanggerang, Sabtu, 11 Mei 2024 (Foto: Meylfin Ridona/LPM Daunjati)

Para perupa memanfaatkan ingatan, pengalaman, dan harapan sebagai inspirasi utama dalam menciptakan karya-karya mereka. Mulai dari interaksi dengan objek-objek di sekitar Las Sengoq Tubaba hingga refleksi atas memori dan harapan masa depan, setiap karya merupakan ekspresi autentik dari perjalanan batin para seniman.

Sebanyak 30 karya dari 23 perupa dipamerkan. Melalui proses panjang pembelajaran seni rupa, para siswa Sekolah Seni Tubaba telah menghasilkan karya-karya yang tidak hanya indah, tetapi juga merangkum perjalanan mereka dalam mengasah kreativitas dan pemikiran kritis.

 

Refleksi dam Memori Untuk Harapan

Lukisan “Jejak Waktu” karya Putri Janati pada pameran ANASIR, Smiljan Space, Tanggerang, Sabtu, 11 Mei 2024 (Foto: Meylfin Ridona/LPM Daunjati)

Salah satu lukisan dengan judul “Jejak Waktu” karya Putri Janati, di lukisan tersebut tergambarkan sebuah pintu yang sudah lapuk dan hancur hingga menjadi sarang rayap, tawon dan serangga-serangga. Dengan detail guratan kuas dan warna serta ide dari sebuah refleksi atas memori Putri. Memori dimana pintu pada lukisan tersebut telah menemani dan selalu ada pada kehidupan Putri hingga pada akhirnya setelah bertahun-tahun pintu tersebut rusak dan hancur.

“Karya saya berjudul jejak waktu, yaitu penggambaran daun pintu yang sudah lapuk ya. Sebenarnya ini kalau saya boleh bercerita sedikit tentang diri saya, ini adalah daun pintu yang modelnya itu atas bawah jadi sebenarnya ada dua potong, tapi itu dua potong ketika tahun 80-an. Dia menemani keluarga saya, menamani perjuangan keluarga saya saat dipasar kemudian ia jadi pintu bengkel kemudian ia berubah jadi pintu dapur dan akhirnya dia tergeletak disini dengan banyak jejak-jejak waktu,” ujar Putri

Lukisan pintu tersebut merupakan simbol sebuah refleksi terhadap waktu. Waktu akan terus berjalan, tidak akan berhenti serta tidak akan pernah kembali, yang bisa kita usahakan hanyalah terus maju dan mempersiapkan diri untuk menuju ke masa depan.

Lukisan “Kepada Pikiran” karya Gabriel Angga pada pameran ANASIR, Smiljan Space, Tanggerang, Sabtu, 11 Mei 2024 (Foto: Karin Alifa/LPM Daunjati)

Ada pula lukisan dengan judul “Kepada Pikiran” karya Gabriel Angga yang memperlihatkan otak dan kilauan cahaya.

“Kenapa harus otak, perwujudan sebuah pemikiran sebuah perasaan sangat penting itu berada dalam otak. Seperti otak itu martabat tertinggi dalam tubuh manusia, berpusat disitu merencanakan sesuatu ide dan mengerjakan segala sesuatu berasal dari otak tersebut. Namun tidak terasa semulus apa yang kita bayangkan, perasaan itu sering terdistraksi lingkungan sekitar yang berpengaruh dalam kehidupan kita,” ujar Angga

“Kemudian kenapa disitu ada cahaya yang menyorot ke dalam, disitu aku menggambarkan ada kehidupan di masa depan yang meyakinkan aku dan menguatkan aku bahwa masa depan itu ada,” lengkap Angga

Lukisan “Kepada Pikiran” merupakan refleksi bagi masyarakat. Dimana otak yang menjadi perwujudan atau simbol penggerak serta pencipta ide dan gagasan seorang manusia. Namun tidak jarang pada proses berpikir itu, kita sering terdistraksi dan jadi menggagalkan kita. Namun apa yang harus kita yakini bahwa esok akan ada, masa depan itu ada.

Distraksi-distraksi serta kegagalan yang menghambat harus kita lawan karena masa depan pasti ada, baik atau buruk masa depan yang menanti kita tergantung bagaimana kita mempersiapkan masa depan mulai dari hari ini.

Pameran seni rupa “ANASIR” tidak hanya menjadi pesta visual bagi para pengunjungnya, tetapi juga merupakan perwujudan dari gagasan, harapan, serta spirit untuk kembali ke masa depan. Dengan melibatkan anak-anak dan remaja sebagai pengemban pesan-pesan ini, pameran ini menjadi simbol keberlanjutan dan kesempatan bagi generasi mendatang untuk mengekspresikan diri dan mempengaruhi dunia dengan kreativitas mereka.

 

Penulis : Meylfin Ridona
Dokumentasi : Meylfin Ridona, Karin Alifa
Penyunting : Ossa Fauzan