Home Default Blog

ARTIKEL

WANOJA NGALAWAN, AKSI PERAYAAN INTERNATIONAL WOMEN’S DAY

Bandung, 8 Maret 2024. Ratusan masyarakat melakukan aksi sebagai bentuk perayaan International Women’s Day. Aksi dengan tema Moal Aya Haseup Mun Euweuh Seuneu, Wanoja Ngalawan yang diinisiasi oleh Komite Aksi Simpul Puan ini dimulai dengan long march dari Taman Cikapayang Dago menuju Gedung Sate Bandung. Selain sebagai bentuk perayaan, kegiatan ini juga dijadikan ajang penyampaian keresahan-keresahan perempuan atas kejahatan seksual, diskriminasi gender, dan sebagainya.

Sebelum menuju Gedung Sate, sempat dilakukan blokade jalan di depan Dukomsel dengan melakukan orasi sebagai penyampaian pesan kepada masyarakat tentang International Women’s Day. Setelah itu, dilanjutkan dengan perjalanan ke gedung DPR, lalu berhenti di depan Gedung Sate Bandung.

Ada banyak rangkaian acara yang dilakukan, seperti orasi, puisi, pertunjukan teater, dan pertujukan musik. Semua bentuk keresahan disampaikan tanpa adanya kericuhan dengan harapan pemerintah segera mengambil tindakan atas keresahan yang disampaikan oleh masyarakat.

Long march aksi perayaan International Women’s Day (foto: Sophia Septiani/LPM Daunjati)

Salah satu keresahan disampaikan oleh Cici dari Great UPI. Cici mengatakan bahwa keresahan yang selalu ia suarakan adalah tentang kekerasan seksual yang banyak memakan korban. Hingga kini, masih banyak korban yang belum mendapatkan keadilan di mata masyarakat maupun negara.

“Aku juga salah satu anggota SPPKS. Keresahan aku adalah terkait isu yang sering aku bawa, yaitu kekerasan seksual yang saat ini sebagai pendamping korban, aku masih banyak melihat bagaimana korban mendapatkan victim blamingdan bagaimana negara serta masyarakat masih mengkerdilkan korban. Itu  sih yang masih menjadi amarah terbesar aku,” ujar Cici.

Selain itu, Cici juga menyatakan pendapatnya tentang aksi IWD tahun ini sebagai hari yang tepat bagi semua perempuan untuk dirayakan dan melakukan perlawanan.

“Hari ini aku rasa sangat seru ya, setiap pengalaman perempuan dirayakan, kita marah. Amarah wanoja itu benar-benar sesuatu yang menurut aku memang perlu untuk kita suarakan. Seharusnya perlawanan itu tidak hanya hari ini, tapi semoga hari ini menjadi momentum di setiap tahunnya untuk mengingatkan bahwa pengalaman perempuan itu patut untuk kita rayakan.”

Menurut Galuh, salah satu warga yang mengikuti aksi, IWD tahun ini masih agak kurang dari tahun kemarin baik dari partisipan maupun pra IWD-nya. Namun, katanya ini sudah lebih dari cukup mengingat penyebaran virus Covid yang baru saja terjadi.

“Dibanding-banding dari IWD sebelumnya yang pernah aku ikutin, entah itu di Bandung atau di Jakarta. Untuk tahun ini aku ngerasa agak kurang memang, entah itu dari partisipan ataupun dari hawar-hawar pra IWD-nya. Cuma, ya untuk pasca covid, ada juga udah syukur. Ya, mungkin ada beberapa yang ga aku lihat, beberapa elemen. Ya keren lah,” Ujar Galuh

Galuh mengatakan bahwa harapannya adalah di tahun selanjunya lebih banyak lagi partisipan yang ikut menyuarakan gerakan perjuangan perempuan.

“Untuk harapannya, semoga untuk kedepannya karena ini salah satu bentuk juga dari kita, gerakan perempuan itu masih selalu ada, tidak padam, walaupun sedikit. Aku juga berharap, IWD tahun depan bisa lebih ramai lagi, orang-orang bisa lebih berpartisipasi lagi, baik dari segala golongan. Dan semoga semakin sadar untuk berkumpul, sadar untuk berjuang,” ujar Galuh.

Call to action aksi perayaan International Women’s Day(foto: Sophia Septiani/LPM Daunjati)

Selain Galuh, Cici juga memberikan harapan dan pesan agar semua pengalaman perempuan terus disuarakan karena setiap pengalaman individu itu berharga. Ia juga berpesan kepada perempuan di luar sana untuk tidak pernah berhenti menuntut kemerdekaan bagi diri sendiri.

“Harapannya semoga pengalaman perempuan bisa terus disuarakan. Suara-suara yang tidak terdengar atau tidak tersuarakan bisa tersuarakan atas semua pengalamannya, karena setiap pengalaman individu itu berharga. Jadi, aku harap setiap individu itu tahu bahwa dirinya berharga. Pesan untuk para perempuan, jangan pernah berhenti untuk menuntut kemerdekaan bagi diri sendiri,” ujar Cici.

Di penghujung rangkaian, masyarakat melakukan call to action dengan memberikan cap tangan dengan cat merah di jalanan depan Gedung Sate sebagai bentuk amarah wanoja atas semua keresahan yang dirasakan.

Penulis : Marissa Anggita
Dokumentasi : Sophia Septiani
Penyunting : Acep Muhammad Sirojudin